Laman

Jumat, 18 Maret 2011

ANALISA

ANALISA PROKSIMAT BAHAN PAKAN

Sebelum membuat suatu formula pakan, hal penting untuk diketahui adalah kebutuhan nutrisi bagi organisme yang akan memanfaatkan bahan pakan tersebut. Selain itu juga harus diketahui jenis bahan pakan apa saja yang digunakan serta bagaimanakah kandungan gizi dalam bahan pakan tersebut, sehingga kita dapat menentukan berapa banyak bahan pakan yang diperlukan untuk membuat suatu formulasi pakan.

Untuk dapat mengetahui kandungan bahan pakan yang akan digunakan dapat dilakukan dengan studi literatur, namun bila kandungan bahan pakan tersebut tidak terdapat pada literatur, maka perlu dilakukan analisa proksimat untuk dapat mengetahui kandungan gizi dalam bahan pakan tersebut. Beberapa kandungan gizi yang perlu untuk diketahui dalam rangka menyusun ransum pakan yaitu protein, lemak, karbohidrat yang terdiri dari BETN dan serat, dan abu. Selain itu juga perlu diketahui kandungan airnya/ bahan kering bebas airnya, sehingga kita dapat menentukan perlu ditambahkan suatu bahan antioksidan atau tidak dalam suatu formulasi pakan. Adapun beberapa analisa yang perlu untuk dilakukan antara lain yaitu sebagai berikut:

Prinsip : Bahan kering adalah bahan yang tersisa / tertinggal setelah kandungan air yang terdapat pada sampel ( bahan pakan ) dihilangkan / diuapkan seluruhnya dengan pemanasan 105°C.

Alat yang digunakan dan fungsinya : Cawan porselen ( aluminium ) fungsinya untuk wadah sampel, cruss tang fungsinya untuk penjepit wadah, timbangan analitik fungsinya untuk menimbang sampel, oven untuk mengeringkan sampel, exicator yang berisi silica gel berfungsi untuk menyerap uap air dan mendinginkan.

Bahan sampel:

Tepung Garut

Cara kerja :

  1. Cawan porselen / aluminium yang bersih dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105ºC selama 2 jam.
  2. Cawan dikeluarkan dari oven dan secepatnya dimasukkan ke dalam exicator. Tunggu sampai 10 – 15 menit, lalu ditimbang ( = A gram)
  3. Cawan diisi dengan sampel 5 gram ( berat cawan + berat sampel = B gram). Masukkan cawan yang berisi sampel ke dalam oven 105 ºC selama 1 malam.
  4. Keluarkan dari dalam oven dan secepatnya dimasukkan ke dalam exicator selama 10 – 15 menit. Setelah dingin lalu ditimbang (= C gram).
  5. Kadar bahan kering bebas air dapat dihitung dengan rumus sbb :

Rumus

Kadar bahan kering bebas air = C - A

--------- x 100 %

B - A

Catatan :

Hasil

Nama sampel : Tepung Garut

Berat cawan porselen = 8,339 gram

Berat cawan + sampel = 15,039 gram

Berat sampel = 15,039 – 8,339 = 6,7 gram

Berat cawan + sampel (setelah pengeringan) = 14,041 – 8,339 = 5,702 gram

14,041 – 8,339

Kadar bahan kering bebas air = --------------------- x 100 %

15,039 – 8,339

= 85,104 %

Pembahasan

Hasil yang diperoleh komposisinya sebesar 85,104 %, maka sisanya masih mengandung air sebesar 14,896 %. Sedangkan pada hasil literatur diketahui kandungan BK bebas air Tepung garut yaitu sebesar 82,4 %. Hasil yang beda ini mungkin disebabkan saat perlakuan dan cara kerja praktikum. Contohnya oven yang sering dibuka – tutup sehingga suhu berubah – ubah dan tidak tepat serta waktu pengovenan yang kurang lama sehingga berat sampel yang diperoleh mempunyai hasil beda.

Prinsip :

Pengukuran kadar abu bertujuan untuk mengetahui besarnya kandungan mineral yang terdapat dalam tepung garut. Menurut Sudarmadji et. al. (1989), abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Abu berasal dari suatu bahan yang dibakar/dipanaskan pada suhu 500 – 6000C selama beberapa waktu. Penentuan kadar abu berhubungan erat dengan kandungan mineral yang terdapat dalam suatu bahan, kemurnian serta kebersihan suatu bahan yang dihasilkan.

Alat yang digunakan :

Bahan sampel:

Cara Kerja :

Kadar Abu = C – A x 100%

B – A

Kadar Abu berdasarkan Bahan Kering (BK) bebas air =

% kadar abu x 100% % BK bebas air

Hasil :

Berat cawan porselen (A) = 27,604 gram

Berat cawan porselen + sampel (B) = 31,395 gram

Berat Sampel (B – A) = 3,791 gram

Berat cawan porselen + sampel (Stlh pengabuan= C)= 27,662 gram

Berat sampel (Stlh pengabuan= C – A) = 27,662 - 27,604

= 0,058 gram

Kadar abu = C – A x 100%

B – A

= 27,662 - 27,604 x 100%

31,395 - 27,604

= 1,529 %

Kadar abu berdasarkan BK bebas air = % kadar abu x 100%

% BK bebas air

= 1,529 % x 100%

85,104%

= 1,797%

Pembahasan :

Dari praktikum analisis kadar abu pada tepung garut yang telah dilakukan, diketahui hasil kadar abunya yaitu 1,529%, sedangkan hasil kadar abu yang berdasarkan Bahan Kering (BK) bebas air yaitu 1,797%. Dalam literatur tidak diketahui berapa persen kadar abunya, namun jika dilihat dengan analisis proksimat lainnya yang telah dikerjakan, mungkin terdapat perbedaan, dan nilainya tidak berbeda jauh. Hal ini dapat disebabkan karena :

Prinsip:

Asam sulfat pekat dengan katalisator dapat memecah ikatan N organik dalam bahan makanan menjadi ammonium sulfat, kecuali ikatan N=N; NO; dan NO2. Ammonium sulfat dalam suasana basa akan melepaskan NH3 yang kemudian akan didestilasi atau disuling. Hasil sulingan di tampung dalam bekerglass yang berisi H3BO3 yang telah diberi indikator. Setelah selesai destilasi, larutan penampung di titrasi dengan H2SO4 0.1 N sampai warna berubah.

Kadar protein kasar adalah hasil kali total nitrogen amonia dengan faktor 6.25 (=100/16) atau nilai hasil bagi total nitrogen ammonia dengan faktor 16% (=16/100). Faktor 16% berasal dari asumsi bahwa protein mengandung nitrogen sebanyak 16%, kecuali biji-bijian sebesar 17% dan bungkil 18.5%.

Bahan Kimia Yang Digunakan:

  • Tablet Kjedhal
  • H2SO4 pekat
  • NaOH 40%
  • Asam Borat
  • Indikator metil merah
  • Indikator Brom Cressol Green
  • H2SO4 0.01 N
  • Aquadest

Bahan Sampel

Tepung garut (Marantha arundinacea)

Alat Yang Digunakan:

Cara Kerja:

Berat sampel

Berat sampel

Protein kasar berdasar BK = % protein kasar x 100%

Proses / Reaksi Kimia Yang Terjadi Selama Analisa Protein Kasar

a. Proses destruksi (Oksidasi)

Merupakan proses pengubahan N protein menjadi ammonium sulfat. Proses ini berlangsung selama sampel yang ditambah dengan katalisator tablet Kjedhal direaksikan dengan H2SO4 pekat dan dididihkan di atas pemanas labu Kjedhal. Dari proses ini semua ikatan N dalam bahan pakan akan menjadi ammonium sulfat (NH4SO4) kecuali ikatan N=N; No; dan NO2. Ammoniak dalam asam sulfat terdapat dalam bentuk ammonium sulfat. CO2 dan H2O terus menguap. SO2 yang terbentuk adalah hasil reduksi dari sebagian asam sulfat dan menguap. Proses destruksi dihentikan setelah larutan menjadi berwarna hijau jernih.

Katalisator

b. Proses Destilasi

Setelah larutan menjadi jernih dan berwarna hijau, labu destruksi didinginkan kemudian dilakukan pengenceran dengan penambahan aquades. Pengenceran dilakukan untuk mengurangi kehebatan reaksi bila ditambah larutan alkali. Larutan dijadikan basa dengan menambahkan NaOH 40%, labu dipasang pada alat penyuling. Hasil sulingan ( uap NH3 dan air) ditangkap oleh larutan H3BO3 yang terdapat dalam labu erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)3BO3. Senyawa ini dalam suasana basa akan melepaskan NH3. NH3 yang dilepaskan diikat kembali oleh H2SO4 membentuk ammonium sulfat. Penyulingan dihentikan jika semua N sudah tertangkap oleh asam borat dalam labu erlenmeyer ⅔ bagian cairan dalam labu penyuling telah menguap).

c. Proses Titrasi

Kelebihan H2SO4 yang digunakan untuk menangkap N dititrasi dengan Natrium Hidroksida. Titrasi dihentikan jika larutan berubah dari ungu ke biru kehijauan.

Hasil Analisa Protein Kasar:

Penghitungan:

0.563 g

= 0.77 %

0.563 g

= 0.1243

85.104 %

Pembahasan Hasil:

Dari analisa yang telah dilakukan, diperoleh kadar protein berdasarkan kadar bahan kering bebas air, sebesar 0.905% dan kadar protein kasar 0.77%. Nilai yang diperoleh tersebut berbeda dengan literatur (0.7 %). Hal ini dapat terjadi kemungkinan dikarenakan proses analisa terutama titrasi yang tidak tepat, dapat terlalu berlebihan atau kekurangan yang berpengaruh terhadap volume H2SO4 yang digunakan untuk titrasi, sehingga mempengaruhi hasil perhitungan kadar protein kasar.

Pengertian :

Lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak (ether, petroleum benzene, karbon tetra khorida dsb). Lemak mengandung unsure C, H dan O. Dalam perbandingan lemak lebih banyak mengandung C dan H daripada O. Lemak memberikan 2.25 kali energy lebih banyak disbanding dengan karbohidrat jika mengalami metabolism karena lemak mengandung unsure H lebih banyak daripada unsure O.

Prinsip:

Melarutkan (ekstrasi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelarut lemak (ether,) selama beberapa waktu (3-8 jam). Ekstrasi menggunakan alat soxhlet. Beberapa pelarut yang dapat digunakan petroleum benzene, karbon tetra khorida, heksana, aseton, dsb. Lemak yang terekstrasi dalam (larutan dan pelarut) akan terakumulasi dalam wadah pelarut (labu Soxhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dengan oven 105

Bahan yang digunakan :

Karbon tetra kholida atau petroleum ether.

Alat yang digunakan :

Labu penyari, labu Soxhlet, pendingin Refflux, timbangan analitik, oven, exicator, cruss tang, spatua, pembakar Bunsen, statif, gelas ukur, kertas saring, benag, gunting, dan kompresor.

Bahan sampel:

Tepung Garut

Cara Kerja:

Kadar lemak kasar =

Kadar lemak kasar berdasarkan BK =

Hasil dan Pembahasan

Hasil :

Berat sampel = 1,556 gram

Berat labu penyari = 1,027 gram

Berat sampel ( lemak I ) = 2,298 gram

Berat sampel ( lemak II /terakhir ) = 2,331 gram

Kadar lemak = -2,21 %

Kadar lemak berdasar BK bebas air = -2,492 %

Pembahasan:

Dari data hasil percobaan analisis lemak yang telah dijalankan, ternyata terdapat perbedaan mencolok dengan data yang ada pada pustaka. Data analisis lemak pada pustaka diketahui bahwa bahan baku tepung garut adalah -2,21% pada perhitungan bahan kering/BK bebas air sebesar -2,492%. Sedangkan hasil pada literatue menunjukankan hasil 0,2 %. Selisih yang amat besar ini menunjukkan bahwa terdapat kesalahan pada pelaksanaan metode yang dijalankan. Beberapa hal yang memungkinkan terjadinya hasil yang tidak akurat adalah

Prinsip :

Serat kasar adalah senyawa organik yang tidak larut dalam perebusan berturut-turut dengan menggunakan larutan asam lemah da basa lemah. Tujuan penambahan H2SO4 untuk menguraikan senyawa N dalam pakan. Penambahan NaOH untuk menguraikan atau penyabunan senyawa lemak dalam pakan sehingga mudah larut. Sisa bahan pakan tidak tercerna setelah proses perebusan kemudian ditimbang dan diabukan. Perbedaan berat residu pertama dan berat residu setelah diabukan menunjukan kumlah serat yang terdapat dalam suatu bahan.

Bahan kimia yang digunakan :

H2SO4 0,3 N, NaOH 1,5 N, HCL 0,3 N, Aceton, H2O panas

Bahan Sampel:

Tepung Garut

Alat yang digunakan :

Erlenmeyer 300 cc, erlenmeyer penghisap, corong Buchner, spatula, cawan porselen,

gelas ukur, corong, timbangan analitik, oven, penangas air dan kompresor.

Cara kerja :

Kadar serat kasar = D – E – B x 100%

A

Kadar serat kasar berdasarkan BK = % serat kasar x 100%

% BK bebas air

Catatan : Bila kandungan lemak sampel di atas 10%, maka sampel untuk analisis serat kasar menggunakan sampel yang diekstraksi (lemaknya dibebaskan dahulu).

Laporan hasil analisis kadar protein kasar:

Berat sampel(A) = 0,521 gram

Berat kertas saring(B) = 0,956 gram

Berat cawan residu+residu kering (D)= 28,622 gram

Berat cawan+abu (E) = 27,640 gram

Kadar serat kasar = {(D-E-B)/A}x 100%

= {(28,822-27,640-0,956)/A}x100%

= (0,026/0,521)x 100%

= 4,99%

Kadar serat berdasarkan BK bebas air = (Kadar serat kasar/kadar BK bebas air) x 100%

= (4,99%/85,104%) x 100%

= 5,863%

Pembahasan:

Serat kasar adalah semua senyawa organik yang tidak larut dalam perebusan berturut-turut dengan menggunakan lareutan asam lemah dan basa lemah. Pada praktikum kali ini diketehui komposisi kandungan serat kasarnya sebesar 4,99%, sedangkan kandungan serat kasar berdasarkan BK bebas air yaitu sebesar 5,863%. Pada literatur serat kasarnya tidak diketahui. Apabila diketahui mungkin hasilnya tidak jauh berbeda. Karena pelaksanaan analisa proksimat ini telah sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Merupakan senyawa organik yang termasuk dalam karbohidrat yang mudah larut dalam perebusan dengan menggunakan larutan asam lemah dan asam basah.

Rumus Perhitungan BETN:

BETN = 100% - (%Air + %PK + %LK + %SK + %Abu)

Atau

BETN = %BK – (%PK + %LK + %SK +%Abu)

= 85.104% - (0.905% -2.492%+ 5.863% +1.797%)

= 79.031%

Dari analisa proksimat yang telah dilakukan terhadap bahan pakan tepung garut terhadap beberapa kandungan gizinya seperti bahan kering bebas air, abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar , maka dapat diketahui kelebihan dan kekurangan tepung garut sebagai bahan pakan, yaitu sebagai berikut:

Bahan Kering bebas air menyatakan kadar bahan bahan yang tersisa setelah air yang terdapat dalam bahan pakan tersebut diuapkan atau dihilangkan seluruhnya. Berdasarkan literatur, kadar bahan kering bebas air tepung garut yaitu sebesar 82,4 %. Sedangkan dari analisa yang dilakukan diketahui kandungan bahan kering bebas air yaitu sebesar 85.104%. sehingga air yang terkandung dalam tepung garut yaitu sebesar 15%. Nilai ini bagi suatu bahan pakan merupakan nilai kandungan air yang cukup tinggi (mininal 14%), sehingga apabila bahan pakan ini hendak digunakan dalam formulasi pakan, perlu penambahan bahan antioksidan untuk mencegah kerusakan pada pakan akibat proses oksidasi.

Kadar abu menyatakan kandungan bahan mineral dalam suatu bahan pakan. Dari analisa proksimat yang telah dilakukan diketahui kandungan abu dalam tepung garut yaitu sebesar 1,529%, sedangkan hasil kadar abu yang berdasarkan Bahan Kering (BK) bebas air yaitu 1,797%. Dari nilai tersebut, menunjukkan bila tepung garut dijadikan sebagai bahan pakan khususnya sebagai sumber mineral, kurang layak untuk digunakan terutama bila digunakan sebagai pakan ikan maupun udang. Karena baik ikan maupun udang memerlukan kandungan mineral yang cukup besar yaitu sekitar 8-15%. Sehingga bila ingin menggunakan tepung garut sebagai bahan pakan baik untuk ikan maupun udang, maka perlu penambahan mineral dari luar.

Protein merupakan salah satu zat gizi yang sangat berperan penting bagi semua makhluk hidup terutama ikan dan organisme akuatik lainnya. Karena protein memegang peranan penting dalam fungsi struktur dan fisik semua organisme seperti perbaikan jaringan dan pemeliharaan tubuh, membentuk hormon dan enzim, sebagai protein globular dalam tubuh, sebagai protein kolagen dalam kulit dan membran, serat protein dalam otot dan jaringan otot. Kebutuhan protein bagi ikan dan udang sangat bervariasi berdasarkan stadia hidupnya. Dimana pada stadia awal memerlukan kadar protein yang tinggi.

Dari analisa proksimat yang telah dilakukan terhadap tepung garut, diketahui kadar protein kasar berdasarkan kadar bahan kering bebas air yaitu sebesar 0.905%. Nilai tersebut merupakan kandungan protein yang sangat kecil sekali, dan tidak cocok untuk dijadikan sebagai bahan pakan ikan (sebagai sumber protein). Karena hewan akuatik seperti ikan dan udang memerlukan protein yang sangat tinggi seperti misalnya udang memerlukan protein dalam pakan sebesar 38-46%, ikan lele 32-36 %, ikan Grass Carp 41-43%, Bandeng 40%, Tilapia 30-56% (Halver, 1989). Sehingga bila ditinjau dari kandungan protein yang terkandung dalam tepung garut, dapat disimpulkan bahwa tepung garut tidak dapat dijadikan sebagai sumber protein dalam ransum pakan.

Dari analisa proksimat yang telah dilakukan terhadap tepung garut, diketahui kandungan lemak kasarnya yaitu sebesar 2,21% sedangkan pada perhitungan bahan kering/BK bebas air sebesar -2,492%. Nilai ini merupakan suatu nilai yang tidak wajar, yang dapat diakibatkan oleh proses analisa yang tidak sesuai dengan prosedur, seperti ketidak telitian dalam penimbangan dan sebagainya. Sedangkan hasil pada literatue menunjukankan kandungan lemak pada tepung garut yaitu sebesar 0.2%. Dari nilai tersebut menunjukkan tepung garut tidak layak digunakan sebagai bahan pakan baik untuk ikan maupun udang karena kebutuhan lemak bagi ikan dan udang yaitu sebesar 5-7 %.

Dari analisa proksimat yang telah dilakukan terhadap tepung garut diketahui bahwa kandungan serat kasarnya yaitu sebesar 4,99%, sedangkan kandungan serat kasar berdasarkan BK bebas air yaitu sebesar 5,863%. Nilai tersebut terlalu besar apabila digunakan sebagai sumber serat bagi pakan ikan maupun udang. Karena kebutuhan serat pada ikan karnivore tidak terlalu besar yaitu sekitar 3-5% (NRC, 1983). Sebenarnya ikan herbivore seperti grass carp, masih bisa mentoleransi serat hingga 8-12%. Namun pemberian pakan dengan kadar serat yang tinggi tidak terlalu baik bagi kesahatan ikan maupun udang karena dapat menghambat pertumbuhannya (Leorry dan Lovell, 1975; Edward et. al. 1977).

Merupakan senyawa organik yang termasuk dalam karbohidrat yang mudah larut dalam perebusan dengan menggunakan larutan asam lemah dan asam basah. Dari perhitungan yang telah dilakukan diketahui kandungan BETN dari tepung garut yaitu sebesar 79.031%. Nilai tersebut terhitung cukup besar apabila digunakan sebagai bahan pakan bagi ikan maupun udang. Karena ikan dan udang memiliki kemampuan yang terbatas dalam mencerna karbohidrat.

Dari evaluasi terhadap komposisi tepung garut maka dapat kami simpulkan bahwa tepung garut tidak cocok untuk digunakan sebagai bahan pakan ikan maupun udang. Hal tersebut dikarenakan kandungan nutrisinya tidak sesuai dengan kebutuhan gizi bagi ikan dan udang, seperti:

1. kandungan abu yang terlalu kecil

2. kandungan protein kasar yang terlalu kecil

3. kandungan lemak yang terlalu kecil.

4. kandungan serat yang terlalu besar

5. kandungan BETN yang terlalu tinggi,

Selain pertimbangan terhadap kandungan gizi tepung garut, faktor harga juga perlu diperhatikan. Tepung garut bila ditinjau dari segi ke ekonomisannya, juga tidak layak untuk dijadikan sebagai bahan pakan ikan dan udang karena harganya yang relatif mahal.

DAFTAR PUSTAKA

Halver, J.E. 1989. Fish Nutrition 2nd Edition. Academic Press. Inc. London

http://kupukupudanpelangi.blogspot.com/2009/09/bekatul-kaya-akan-gizi.html

http://www.mail-archive.com/agromania@yahoogroups.com/msg31582.html


Tidak ada komentar: